SORE ITU DI SIMPANG JALAN
Hujan menyapa ketika senja lenyap.
sebentuk pesan tentang waktu terus tiba
sedangkan di sana
masih banyak di antara kita yang harus tertatih
tuk raih hidup yang lebih menjanjikan
Sore itu …
berdiri dirimu diantara lampu jalan yang sedikit remang,
temaram dan sayup oleh deras hujan dan hempasan kabut
kau coba raba saku kecilmu
masih sedikit receh yang masuk kantongmu hari ini
setelah tadi siang berlomba unjuk aksi
suarakan kepedihan hidup
Hujan semakin guyur tubuh mungilnya
bercanda … dengan sesamanya yang masih memadati persinggahan
bermain dengan luapan air…
bahkan telihat saling kotori tubuh kecil yang semakin menggigil
itulah saat tuk bersenang-senang
lepas tawa dan jenuh
setelah seharian dendangkan lagu
setelah seharian lantunkan syair keriaan
saat panas menyengat wajah
saat keringat membasahi tubuh
saat gerimis dan hujan mengguyurnya dengan tanpa belas
terus dan terus dilantunkan lagu itu
hingga kendaraan berikutnya
Sungguh bukanlah sebuah hiburan baginya
melainkan perjuangan …
melawan arus gelombang kehidupan
yang kian hari kian terpuruk
perjuangan …
‘tuk pertahankan kerasnya hidup … demi hari berikutnya
Jogjakarta, 8 Maret 2003
Aufie-Cilik