Materi Seminar Nasional Sehari Penguatan Kelembagaan dan Manajemen Perpustakaan untuk Meningkatkan Kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi, Kerjasama UPT Perpustakaan UNSOED dengan Forum Komunikasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri (FKP2TN), Selasa, 12 April 2016

Seminar Nasional Sehari

“Penguatan Kelembagaan dan Manajemen Perpustakaan untuk Meningkatkan Kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi”

Seminar FKP2TN UNSOED 2016 – Peran Pimp PTN – Perpustakaan – Tridharma

Seminar FKP2TN UNSOED 2016 – Peran Pustakawan dan Perpustakaan PT – Sutikno

Seminar FKP2TN UNSOED 2016 – Merebut HAti PEmustaka – Ninis Agustini Damayanti

Seminar FKP2TN UNSOED 2016 – Our Library Our Story – Taufiq Abdul Gani

Efek Media Massa dalam Politik Oleh RR. Ardiningtiyas Pitaloka, S.Psi.**

Jakarta, 28 Mei 2004

Psikologi sosial sebagai cabang ilmu psikologi mempelajari bagaimana individu dipengaruhi orang lain. Televisi, yang bisa menampilkan atau tampil sebagai ‘orang lain’ juga memiliki pengaruh pada pikiran, perasaan dan perilaku kita.

Pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung yang pertama kali terjadi di bumi Indonesia menjadi agenda utama media-media baik cetak maupun elektronik. Beberapa stasiun televisi berlomba-lomba menghadirkan informasi sebanyak dan seaktual mungkin. Mulai dari acara talk show, debat kandidat, dialog, atau poling sms.

Fenomena ini merupakan gambaran dari peran penting media dalam suatu pemilihan umum (election) seperti dikemukakan oleh Oskamp & Schultz (1998), yakni memusatkan perhatian pada kampanye, menyediakan informasi akan kandidat dan isu seputar pemilu. Pertanyaan besar yang sering dilemparkan ialah, bagaimana media mempengaruhi wawasan politik, sikap dan perilaku masyarakat?

Meskipun tidak semua orang setuju dengan model dan gaya yang ditampilkan media televisi atau media cetak, namun tercatat empat pengaruh media dalam politik bagi masyarakat yaitu (a) penambahan informasi, (b) kognitif, (c) perilaku memilih, (d) sistem politik.

Penambahan informasi

Hampir sebagian besar orang dewasa menyatakan bahwa mereka mendapatkan hampir seluruh informasi tentang berbagai peristiwa dunia maupun nasional dari media massa. Secara umum, studi telah menunjukkan bahwa masyarakat yang banyak mengkonsumsi media biasanya memiliki pengetahuan yang lebih baik dan aktual daripada yang tidak atau kurang memanfaatkan media. Namun hal ini lebih berlaku untuk media cetak ketimbang televisi.

Kelemahan media televisi ada pada kecenderungannya untuk lebih menyorot hal-hal yang ‘menghebohkan’, seperti huru-hara saat demonstrasi, reaksi elemen masyarakat terhadap kandidat tertentu, dan sebagainya. Kecenderungan ini akhirnya mengabaikan substansi isu politik itu sendiri. Fenomena ini, jauh-jauh hari telah ditegaskan oleh Patterson & McClure (1976, dalam Oskamp & Schultz,1998), “Network news may be fascinating. It may be highly entertaining. But it simply not informed.”

Selain itu, media televisi juga memiliki kapasitas terbatas untuk menghadirkan ulasan-ulasan yang mendalam, berbeda dengan media cetak yang bisa menampilkan berbagai tulisan sehingga pembaca bisa menyimaknya berkali-kali, bahkan berhenti sejenak untuk merenung atau diskusi dengan pembaca lain tanpa khawatir artikel tersebut akan ‘hilang’. Bandingkan dengan televisi, pemirsa tidak bisa ‘menghentikan’ tayangan untuk memberi waktu otaknya berpikir apalagi merenung. Meski demikian, tidak berarti televisi tidak pernah memberikan kontribusi dalam pemilihan umum. Buktinya di Amerika, dalam suatu studi tahun 1992 telah menunjukkan bahwa tayangan debat Clinton – Bush – Perrot, telah meningkatkan informasi tentang kandidat dan pandangan atau prinsip-prinsip yang dianut bagi para pemilih dalam pemilu tersebut.

Efek Kognitif

Media memiliki kemampuan untuk ‘mengatur’ masyarakat, not what to think, but what to think about. Penjelasan pada kalimat yang ‘indah’ ini ialah media cenderung mengarahkan masyarakat memikirkan hal-hal yang tersaji dalam menunya, bukan apa yang sebenarnya terjadi di sekitar masyarakat itu sendiri. Saat media A berbicara tentang Inul, merembet pada media lain, masyarakat pun ikut terlena didalamnya. Masalah kebanjiran yang menjadi langganan Jakarta pun tidak lagi terlalu mengusik, hingga tiba saat kondisi riil musibah itu.

Perhatian masyarakat cenderung lebih dipengaruhi gambaran media daripada situasi nyata dunia. Contoh lain, semakin banyak media yang mengusung dan mengemas berita kriminal, masyarakat mungkin saja menjadi yakin bahwa ada suatu gelombang kejahatan, tanpa perlu lagi memastikan atau mencari tahu informasi sebenarnya apakah kejahatan memang meningkat, menurun atau konstan. Oleh kareena itulah, materi dalam media dapat menentukan ‘agenda publik’, yaitu suatu topik yang menjadi perhatian atau minat masyarakat serta mencoba untuk direspon.

Perilaku memilih

Secara luas, media lebih cenderung menguatkan tujuan-tujuan yang ada dalam pemungutan suara daripada merubahnya. Seperti telah disinggung diawal bahwa peran utama media dalam suatu pemilihan umum ialah menfokuskan perhatian masyarakat pada kampanye yang sedang berlangsung serta berbagai informasi seputar kandidat dan isu politik lainnya. Walaupun mungkin tidak memberi dampak langsung untuk merubah perolehan jumlah suara, namun media tetap mampu mempengaruhi banyaknya suara yang terjaring dalam suatu pemilu.

Menurut Noelle-Newman (1984,1992, dalam Oskamp & Schulz,1998), secara implisit, masyarakat membuat suatu penilaian terhadap pihak maupun cara yang ditempuh untuk memenangkan pemilihan, atau isu-isu panas yang diperdebatkan. Penilaian personal yang dipengaruhi kuat oleh media ini diam-diam bisa berdampak pada pengurangan jumlah suara bagi pihak yang kalah. Ulasan dini seputar pemilu atau laporan berdasarkan survei secara random dapat memperkuat penilaian masyarakat, terutama tentang siapakah yang akan menjadi pemenang dan mendorong terbentuknya ‘spiral silence’ diantara pihak yang merasa kalah atau menjadi pecundang.

Jadi, jangan terlalu yakin jika poling-poling sms di berbagai stasiun televisi tidak memiliki dampak apa-apa, setidaknya besarnya angka poling pada pihak A, akan mengusik atau menciutkan hati pihak B, atau lainnya. Masyarakat yang mengidolakan atau akan memilih capres-cawapres C misalnya, ‘mau nggak mau dipaksa untuk ‘meringis’ tatkala melihat jagonya berada di urutan buncit dalam poling sms, meski hampir semua percaya bahwa itu bukan representasi masyarakat Indonesia.

Efek dalam sistem politik

Televisi telah merubah wajah seluruh sistem politik secara luas dengan pesat. Media ini tidak hanya mempengaruhi politik dengan fokus tayangan, kristalisasi atau menggoyang opini publik, namun secara luas berdampak pada para politisi yang memiliki otoritas dalam memutuskan kebijakan publik.

Media, dengan publisitas, pemasangan iklan dan ulasan beritanya, juga memiliki kemampuan yang kuat untuk secara langsung mempengaruhi meningkatnya jumlah dana dalam suatu kampanye politik. Begitu penting dan besarnya peran berita atau ulasan-ulasan media dalam suatu pemilihan umum, maka baik staf maupun kandidat politik sebenarnya telah menjadi media itu sendiri.

Kontrol Masyarakat

Begitu besar pengaruh dan peran media dalam perpolitikan, hendaknya dimanfaatkan secara bijaksana. Terkadang seorang tokoh atau pihak tertentu yang masih bermasalah di masa silam atau kini nampak begitu kemilau dan tiba-tiba bersih sehingga masyarakat pun lengah dengan kepahitan yang pernah ada. Terus berputar pada masa lampau juga tidak akan mencerahkan bangsa ini, namun melupakan masa lalu juga bukan syarat bagi perbaikan diri, terlebih suatu bangsa.

Kontrol masyarakat untuk selalu melihat segala sesuatu dengan proposional, kritis dan obyektif sangat lah diperlukan. Hendaknya media juga mendorong masyarakat untuk melakukan critical control, sehingga terjalin kerjasama yang benar-benar secara positif membawa manfaat dan kontribusi bagi kedua belah pihak : pihak media massa dan terutama, pihak masyarakat. (Jr)

**Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Psikologi Sosial Sains , Universitas Indonesia

 

Sumber: http://www.e-psikologi.com/sosial/280504.htm

 


Cara Mudah Membuat Kliping

Bagi anda yang suka membaca koran atau majalah dan tidak mau membiarkan berita tersebut hilang begitu saja, ada cara yang paling tepat untuk mendokumentasikan artikel terkait. Caranya dengan membuat kliping. Membuat kliping bukan sekadar menggunting dan menempel artikel, kemudian jadi. Akan tetapi, terdapat trik-trik khusus agar kliping tersebut rapi dan bersih. Karena itu, ikutilah petunjuk berikut:

– Siapkan peralatan untuk membuat kliping: lem, gunting, kertas folio, pulpen dan pembolong kertas.
– Tentukan artikel yang akan anda gunting
– Gunting artikel tersebut dengan hati-hati, jangan sampai tulisannya terpotong
– Garislah kertas folio tersebut menjadi 3 kolom
– Tulislah sumber, tanggal, halaman, kemudian tentukan kelas artikel tersebut

Agar hasil kliping anda rapi, maka tempel artikel tersebut hanya pada pinggirnya saja. Bila ada kesalahan menempel, maka mudah dicopot. Pakailah lem batangan agar hasil yang ditempel bagus dan rapi. Supaya kliping yang dibuat awet, bersih dan rapi, diperlukan tempat penyimpanan khusus. Caranya, lubangi pinggir kertas sebelah kiri dengan menggunakan pembolong kertas lalu taruhlah di odner dengan menggunakan sistem Late in First out (masuk belakangan keluar duluan ). Kemudian tulislah di odner tersebut kelas kliping yang anda buat. Jika kliping anda ingin dijadikan seperti buku, maka ia perlu dikeluarkan dari odnernya dengan memberi halaman pada tiap lembarnya, kemudian dibuat daftar isi dan halaman judulnya. Jilidlah kliping yang sudah dibuat daftar isi dan covernya sebaik mungkin.

Maka, kini anda mempunyai koleksi artikel yang anda inginkan. Selamat mencoba! (DM)
SUmber: http://www.kalyanamitra.or.id/kalyanamedia/1/3/pustakaria2.htm

Layanan Informasi Dambaan: Kepuasan versus Kecanggihan

“Mudah-mudahan kita tidak hanya melakukan dengan benar saja, namun yang penting bahwa kita memang mengerjakan yang benar.”
(Blasius Sudarsono)

Perpustakaan, pusat dokumentasi, pusat informasi atau apapun istilahnya merupakan sebuah institusi yang dibangun untuk kepentingan masyarakat. Pengorganisasian informasi ini dilakukan karena adanya kebutuhan akan informasi yang mudah bagi pihak yang membutuhkan baik perorangan maupun kelompok. Oleh karena itu, layanan yang dilakukan selalu berorientasi pada masyarakat, sebagai pengguna informasi. Kepuasan pengguna merupakan petunjuk utama bagi pelaksana pengorganisasian informasi.

Dalam perkembangannya, kebutuhan pengguna informasi juga berubah-ubah baik dari segi keragaman isi maupun aksesnya. Mobilisasi manusia yang makin cepat menimbulkan tuntutan hidup yang kian besar dan beragam. Perubahan pola hidup masyarakat ini mengubah pula karakter kebutuhan informasi mereka. Pengguna cenderung membutuhkan semakin banyak informasi untuk mengimbangi aktivitasnya, namun waktu dan energi mereka terbatas untuk menelusuri informasi tersebut. Efisiensi dan efektifitas menjadi pertimbangan utama pengguna dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini, konsep layanan informasi yang bersifat konvensional, yang hanya menunggu pengguna dating harus dikembangkan ke arah yang lebih aktif atau menjemput bola istilahnya. Perpustakaan harus bertransformasi atau menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada.

Dalam transformasinya di tengah kemajuan ilmu pengetahuan termasuk teknologi informasi dan komunikasi, perpustakaan harus mampu memberikan nilai tambah pada informasi melalui streamlining, ekspansi dan inovasi. Selain mempermudah dan memperluas akses, perpustakaan hendaknya mampu melakukan manajemen pengetahuan secara maksimal. Selama ini, perpustakaan termasuk kajiannya lebih banyak berfokus pada organisasi dan penyebaran informasi dan memperhatikan pengetahuan yang sudah terekam di luar pikiran penciptanya. Padahal, banyak pengetahuan yang masih ada dalam kepala dan belum pernah direkam dalam sumber-sember informasi yang umumnya dikelola oleh perpustakaan selama ini.

Untuk meningkatkan nilainya, perpustakaan harus memfasilitasi dan berpartisipasi pasif maupun aktif dalam manajemen pengetahuan penggunanya. Kemas ulang informasi menjadi sebuah alternatif yang makin diminati pengguna. Tentu saja sebuah perpustakaan harus mengenali terlebih dulu karakter penggunanya sebelum menentukan format layanan kemas ulang yang akan diberikan.
Ke depan, perpustakaan harus lebih memfokuskan diri sebagai community information intermediary, yaitu institusi yang dapat memahami dan berempati terhadap komunitas pengguna, memiliki pemahaman yang mendalam terhadap dunia informasi dan organisasinya serta dengan aktif selalu mengembangkan dan meningkatkan mekanisme yang menghubungkan keduanya. Kompetensi yang harus dimiliki dalam paradigma baru harus disesuaikan dan ditingkatkan seiring dengan perubahan tuntutan pengguna, yaitu akses informasi secara lebih luas, cepat dan tepat.

Penegasan makna kelompok pengguna yang akan dilayani adalah faktor penting dalam menentukan layanan yang akan diberikan. Layanan yang tepat dan tingkat kepuasan harus dilihat dari kacamata pengguna yang akan dilayani. Sering perpustakaan menentukan sendiri jenis dan bentuk layanan yang tepat bagi penggunanya tanpa memperhatikan karakter pengguna, terlebih tingkat kepuasannya. Kenyataannya kondisi masyarakat Indonesia termasuk pemahaman dan apresiasinya terhadap perpustakaan masih sangat beragam. Di satu sisi, masyarakat yang menerima secara terbuka kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memerlukan akses yang cepat dan luas tanpa dibatasi ruang dan waktu. Karakter ini menuntut layanan perpustakaan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Di sini kecanggihan teknologi sangat dibutuhkan termasuk sumber daya manusia yang menguasai teknologi tersebut. Dalam masyarakat dengan karakter ini waktu lebih berharga daripada beaya materi yang dikeluarkan. Dalam perkembangannya, saat ini layanan perpustakaan mengarah pada komunitas pengguna.

Kondisi yang kontradiktif bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum tersentuh sama sekali oleh kemajuan teknologi informasi dan komunnikasi. Masih banyak masyarakat yang belum mampu merumuskan kebutuhan mereka akan informasi yang dapat meningkatkan taraf hidup, kalaupun tahu mereka masih belum mempunyai banyak akses menuju ke sana. Satu kebutuhan yang mereka pahami dengan pasti adalah bertahan hidup, yaitu bisa makan setiap hari. Bahkan, pendidikan dan kesehatan pun jauh dari jangkauan mereka. Seperti judul buku Insist Press Yogyakarta yaitu “Orang Miskin Dilarang Sekolah, Orang Miskin Dilarang Sakit”. Masyarakat yang belum melek huruf, bagaimana mereka akan menerima kehadiran perpustakaan dalam hidupnya, jika bukan perpustakaan itu sendiri yang aktif dan beradaptasi dengan mereka?

Idealisme perlu dimiliki untuk mentransformasi perpustakaan menjadi bagian dari hidup keseharian masyarakat. Perubahan yang dilakukan perpustakaan di Indonesia selayaknya mengacu pada perkembangan global yang didasarkan pada karakter masyarakat yang ada. Seperti proses perkembangan yang telah dilalui dari masyarakat berburu, peramu, pertanian, industri hingga kini dikenal sebagai masyarakat informasi. Masing-masing masyarakat tentu memiliki karakter sendiri yang harus dipahami secara objektif dan menyeluruh. Bagaimana proses perubahan ini dapat dipikirkan, dirancang dan dilaksanakan; rasanya menjadi hal penting dan mendesak untuk mewujudkannya.

Bila kita lihat kembali pada paragaraf 13-14 1) Deklarasi World Summit on the Information Society (WSIS) yang dilaksanakan di Genewa, 10-12 Desember 2003, ditegaskan bahwa dalam membangun masyarakat informasi harus memperhatikan kebutuhan masyarakat marginal. Karena itu, transformasi layanan perpustakaan harus berdasarkan karakter masyarakat yang beragam tersebut. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang canggih dibutuhkan untuk mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu cepat. Namun, apakah kecanggihan itu bisa dinikmati oleh komunitas pengguna kita? Pertanyaan yang harus kita kembalikan pada karakter komunitas pengguna layanan perpustakaan itu sendiri. Kembali pada prinsip perpustakaan yang beorientasi pada pengguna, maka kepuasan pengguna menjadi indikator utama. Oleh karena itu, menjadi tugas perpustakaan untuk mengidentifikasi tingkat kepuasaan penggunanya. Kepuasan tidak selalu sama dengan kecanggihan. (SN)

1)
Paragraf 13
Dalam membangun masyarakat informasi, kita harus lebih memberikan perhatian pada kebutuhan khusus kelompok terpinggirkan dan lemah dalam masyarakat, termasuk migran, orang tersisih dan pengungsi, pengangguran, orang miskin, minoritas, dan orang nomaden. Kita juga harus memahami kebutuhan khusus orang tua dan penyandang cacat.

Paragraf 14
Kami berniat teguh untuk memberdayakan orang miskin, khususnya yang hidup di tempat jauh, pedesaan dan daerah pinggiran kota, untuk mengakses informasi dan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana pendukung upaya mereka mengentaskan diri dari kemiskinan.

Sumber: http://www.kalyanamitra.or.id/kalyanamedia/1/3/pustakaria1.htm

Planet dan Peradaban Manusia (Refleksi ‘Pemecatan’ Pluto)

Moh Ali Fauzi
Dosen STAI Al-Falah As-Sunniyah, Jember

Jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Maka tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak akan ada ilmu pengetahuan.

Tetapi kita hidup di alam semesta yang berada di antara kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam. Seluruh peristiwa dan hukum-hukum alam itu memungkinkan kita bisa menggambarkan segala sesuatu. Akhirnya, kita bisa bekerja dengan ilmu, dan dengannya bisa memperbaiki hidup kita.

Pemecatan Pluto
Beberapa pekan lalu, 2.500 astronom dari 75 negara telah membuat pergeseran dramatis dalam dunia astronomi. Untuk pertama kalinya sejak Copernicus menyatakan bumi berevolusi mengitari matahari, abad ke-16, para astronom menciptakan definisi yang universal tentang planet. Pluto pun tereliminasi dari jajaran Planet.

Sebuah objek langit yang mengitari matahari akan pantas disebut planet apabila, pertama, memiliki bidang orbitnya yang ekslusif, bersih dari tetangga-tetangganya. Kedua, objek itu harus memiliki massa yang cukup untuk gaya gravitasinya sehingga mampu mempertahankan kebulatan bentuknya. Pluto secara otomatis didiskualifikasi karena orbitnya overlap dengan Neptunus. Status Pluto diturunkan menjadi planet mini.

Clyde Tombaugh, seorang ahli astronomi amatir Amerika di Lowell Observatory, adalah orang yang menemukan Pluto pada 18 Februari 1930. Tombaugh meninggal pada 1997. Sedangkan Venetia Burney, murid sekolah Inggris, saat dia berusia 11 tahun telah mengusulkan nama Pluto. Kini masih hidup dan tinggal di Inggris. Nama Pluto pun resmi diterima pada 1 Mei 1930. Kedua orang inilah yang barangkali secara emosional harus diingat dalam hubungannya dengan keberadaan Pluto sebagai planet.

Pluto secara resmi diakui sebagai planet kesembilan oleh Persatuan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) pada tahun 1930. Oleh perkumpulan yang sama pula, dalam pertemuan di Praha, Ceko, Kamis 24 Agustus 2006, Pluto dicoret dari jajaran nama planet dalam tata surya kita. Keputusan sudah diambil, dan itu adalah pilihan yang paling rasional yang harus diputuskan secara ilmiah.

Lebih dari setengah abad, kita telah hidup dalam tata surya dengan sembilan planet. Kini, para astronom mengubah rumah tangga kosmos kita dengan hanya menjadi delapan planet. “Keputusannya sudah final, resmi, hanya ada delapan planet dalam sistem tata surya kita,” kata Mike Brown, astronom dari Caltech University, AS. Namun karena menyadari begitu lekatnya dalam ingatan antargenerasi, Brown akhirnya berujar, “barangkali saya akan tercatat dalam sejarah sebagai lelaki pembunuh Pluto”.

Kalau saja Pluto masih dianggap sebagai planet, akan ada puluhan planet dalam tata surya kita. Ada objek-objek lain yang bentuk dan ukurannya mirip Pluto, seperti Xena, Verona, Terran, Ceres, dan masih banyak lagi. Sekali lagi, persoalan planet Pluto adalah persoalan ilmu pengetahuan. Persoalan data dan fakta yang harus diterima. Pencoretan Pluto sebagai planet tidak hanya harus mengubah buku-buku pelajaran sekolah dan sejarah astronomi, melainkan yang lebih penting adalah meluruskan ingatan yang telah tertanam begitu kuat selama lebih dari setengah abad. Mengapa persoalan astronomi dan planet begitu penting?

Posisi astronomi
Mempelajari astronomi merupakan upaya memahami tatanan kosmos dalam kehidupan. Pada mulanya, dan hingga kini, kita selalu belajar dari alam untuk bertahan hidup. Kemampuan untuk membaca kalender di langit bisa dikatakan sebagai persoalan hidup dan mati. Kita memetik dan memanen hasil pertanian pada musim tertentu, tetapi tidak pada musim-musim yang lain. Saat kita menemukan pertanian, kita harus hati-hati menanam dan memanen tanaman kita pada musim yang tepat.

Pernah berlangsung suatu masa di mana belum ada televisi, bioskop, radio, atau buku dan sebagian besar kehidupan manusia dihabiskan dalam masa-masa seperti itu. Di sekitar bara api kemah yang hampir mati pada malam yang tak berbulan, manusia mengamati bintang-bintang. Sebagai contoh, di langit utara ada pola atau konstalasi yang mirip beruang kecil. Beberapa kebudayaan memanggilnya beruang besar. Kebudayaan lain bisa melihat gambar atau bayangan yang sangat berbeda. Gambaran ini tentu saja tidak ada di langit, manusia sendirilah yang meletakkannya di sana.

Planet disebut juga sebagai bintang-bintang pengelana. Nenek moyang kita yang pengembara pasti merasakan ikatan dengan planet-planet ini. Dalam masyarakat modern, membeli majalah astrologi akan sangat mudah. Tetapi jauh lebih sulit mencari majalah tentang astronomi. Hampir semua surat kabar memiliki kolom astrologi. Artinya, astrologi hingga kini masih begitu dekat dalam kehidupan kita.

Astrologi berpendapat bahwa tempat kedudukan planet-planet pada konstelasi saat seseorang lahir akan mempengaruhi masa depannya. Para astrolog mempelajari pergerakan planet dan bertanya pada diri mereka sendiri, apa yang terakhir terjadi saat katakanlah, Venus terbit di rasi Taurus. Mungkin hal yang sama juga akan terjadi sekarang ini.

Johannes Kepler pernah berkata, “Tuhan selalu memberi kepada makhluknya segala cara untuk hidup. Untuk para astronom, ia memberikan astrologi.” Peran astronomi dan planet dalam kehidupan tidak saja di bidang ilmu pengetahuan, namun juga mempengaruhi cara hidup manusia dalam memahami tempat hidupnya, rumah tangga kosmos alam semesta.

Penjelajahan kosmos adalah perjalanan menapak tilas untuk menemui diri sendiri. Perjalanan itu kita lakukan dengan alat yang bernama ilmu pengetahuan. Memang, alatnya belum sempurna dan sering disalahgunakan. Ada pembuat perangkat destruktif produk sains dan mengatasnamakan pertahanan dan perdamaian. Tetapi masih banyak kegiatan konstruktif lainnya yang bisa diciptakan oleh sains. Perubahan ilmu pengetahuan adalah bagian dari upaya memperbaiki kehidupan manusia itu sendiri.

Sumber: Republika On Line, Rabu, 06 September 2006

Introspeksi

gerimis hujan mulai reda

lambat laun gemercik air itu hilang

senyap….

tinggal malam temani kesunyian

………..

saat temaram malam hening

teringat aku ‘kan canda yang menyegarkan

di kala penat dan lelah hadir

sejenak aku tersenyum ….

kuambil lembar harianku

sekilas kubaca coretan kecil itu

kutatap langit-langit kamarku

tersadar aku dengan apa yang telah kulakukan

kucari kesalahan masa lalu

kutelusuri kebodohan yang pernah menghantuiku

tuk akhirnya aku buang jauh dari lembar baruku

ku awali dengan memberi penilaian pada diri …

bahwa tidak sedikit noda hitam

yang sungguh membekas dalam setiap jengkal tubuh kita

aku menangis….

yah…aku hanya ingin menangis

aku tidak ingin membaurkan keduanya…

hanya ini yang bisa aku lakukan…..

hanya ini yang bisa aku kerjakan

inilah penyesalan yang tiada henti mengikutiku

hanya satu asa yang tersisa ……….

raih kebahagiaan yang lebih kurasakan kedalamannya

saat ku baca kembali ‘larik’ ini … akupun menangis…..

terharu aku pada diriku

semoga bukan hanya harap…………..

Jogjakarta, 8 Maret 2003

Aufie-Cilik

 

SORE ITU DI SIMPANG JALAN

Hujan menyapa ketika senja lenyap.

sebentuk pesan tentang waktu terus tiba

sedangkan di sana

masih banyak di antara kita yang harus tertatih

tuk raih hidup yang lebih menjanjikan

Sore itu …

berdiri dirimu diantara lampu jalan yang sedikit remang,

temaram dan sayup oleh deras hujan dan hempasan kabut

kau coba raba saku kecilmu

masih sedikit receh yang masuk kantongmu hari ini

setelah tadi siang berlomba unjuk aksi

suarakan kepedihan hidup

Hujan semakin guyur tubuh mungilnya

bercanda … dengan sesamanya yang masih memadati persinggahan

bermain dengan luapan air…

bahkan telihat saling kotori tubuh kecil yang semakin menggigil

itulah saat tuk bersenang-senang

lepas tawa dan jenuh

setelah seharian dendangkan lagu

setelah seharian lantunkan syair keriaan

saat panas menyengat wajah

saat keringat membasahi tubuh

saat gerimis dan hujan mengguyurnya dengan tanpa belas

terus dan terus dilantunkan lagu itu

hingga kendaraan berikutnya

Sungguh bukanlah sebuah hiburan baginya

melainkan perjuangan …

melawan arus gelombang kehidupan

yang kian hari kian terpuruk

perjuangan …

‘tuk pertahankan kerasnya hidup … demi hari berikutnya

Jogjakarta, 8 Maret 2003

Aufie-Cilik

IBU…*Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki
Penuh darah, penuh nanah

Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas
Ibu… ibu….

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu… ibu….

Doa Rasulullah SAW

imageSalah satu ayat yang menjelaskan tentang keberadaan Allah dan pentingnya berdoa dijelaskan dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan perintah ibadah puasa.

Firman tersebut adalah, ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS 2: 186).

Ini menunjukkan bahwa Allah dekat dengan setiap hamba-hamba-Nya dan Allah akan mengabulkan doa dari setiap hamba-hamba-Nya, terlebih-lebih pada bulan Ramadhan. Hal ini sejalan dengan keterangan Rasulullah bahwa salah satu doa yang dikabulkan Allah adalah doa orang-orang yang berpuasa.

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW menegaskan, ”Inilah (Ramadhan) bulan yang ketika engkau diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doa dikabulkan. Bermohonlah kepada Allah, Rabb-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.” Karenanya, pada sisa Ramadhan ini, mari kita senantiasa terus bermohon dan berdoa kepada Allah. Salah satu doa yang Rasulullah ajarkan adalah, ”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari golongan mereka yang empat macam itu.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Doa di atas merupakan doa yang merepresentasikan sifat atau keadaan yang mungkin dialami oleh setiap manusia. Hati yang tidak khusyuk dapat menyebabkan setiap ibadah yang dijalani tidak memberikan dampak pada kondisi keimanan kita. Ruh atau makna dari ibadah yang dilaksanakan tidak dapat diraih atau dipahami. Akibatnya, ibadah yang dilaksanakan hanya bernilai sekadar ritual dan di sisi Allah pun dapat menyebabkan tidak memiliki nilai ibadah.

Allah mencontohkan dalam firman-Nya bahwa shalat yang tidak khusyuk akan mengantarkan seseorang kepada siksa. Allah SWT berfirman, ”Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS 107: 4 – 7). Sebaliknya, khusyuk dalam beribadah merupakan salah satu tanda orang-orang beriman (perhatikan QS 23: 1-2).

Doa yang tidak didengar Allah merupakan kerugian bagi manusia. Doa yang tidak didengar, sebagaimana firman Allah dalam Alquran (QS 2: 186) di atas, salah satunya disebabkan oleh kemaksiatan yang dilakukan kepada Allah. Selain itu, doa yang tidak didengar bisa juga disebabkan oleh ketidakkhusyukan dalam berdoa.

Jiwa yang tidak puas menyebabkan kesengsaraan di dunia yang berkepanjangan. Sedangkan ilmu yang tidak bermanfaat menyebabkan ilmu yang diperoleh tidak berguna bagi dirinya dan tidak membawa kebaikan baginya. Uraian di atas menunjukkan betapa banyak keburukan yang diakibatkan oleh keempat golongan sifat di atas. Karenanya, mari kita berdoa agar kita terhindar dari keempat golongan orang tersebut. Wallahu a’lam bis-shawab.

Sumber: http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=2482_0_4_0_M

By aurajogja Posted in Hikmah