Mengapa Publikasi Elektronik Karya Ilmiah?

Diao Ai Lien

Menyebarluaskan skripsi, tesis, disertasi, dan karya ilmiah lainnya dalam bentuk elektronik mempunyai lebih banyak kebaikan daripada keburukan. Argumen orang yang berkeberatan terhadap hal ini adalah bahwa karya tersebut menjadi mudah dijiplak. Untuk mengatasi kekuatiran tersebut, ada beberapa hal yang perlu disadari, yaitu:

  1. mencetak dokumen elektronik (sama seperti memfotokopi) belum berarti plagiarism.

Plagiarism baru terjadi waktu seseorang mengutip atau menggunakan, sedikit atau banyak, tulisan orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Di kalangan mahasiswa dan bahkan dosen hal ini sering terjadi karena yang bersangkutan tidak mengerti cara membuat kutipan secara benar. Mereka berpendapat bahwa kalau sudah menyebut sumber satu kali di awal kalimat, atau di paragraf pertama, atau di daftar pustaka, berarti sudah memadai; dan oleh karenanya, kutipan di kalimat atau paragraf berikutnya tidak perlu menyebutkan sumber tersebut lagi. Bayangkan kalau kalimat-kalimat tersebut kemudian dikutip oleh orang yang mengerti cara mengutip yang benar, maka akan beralihlah sumber asli kalimat-kalimat tersebut. Karena itu,

  1. lebih penting mengajarkan orang membuat kutipan secara benar (dari segi format, maupun isi) daripada melarang memfotokopi atau mencetak suatu karya ilmiah

  1. dokumen elektronik bisa juga dibuat ’hanya untuk dibaca’, yaitu dengan cara menyimpannya dengan menggunakan Adobe Acrobat versi 5.0 dan mengikuti langkah-langkah terlampir yang dibuat oleh Bapak Thomas Anung Basuki (KaPus UnPar) yang telah diperbaiki oleh Vincentius Widya Iswara (KaBag Pelayanan Pemakai Perpustakaan Widya Mandala Surabaya).

Dengan perkataan lain, melarang publikasi elektronik karya ilmiah secara fulltext bukan merupakan tindakan yang tepat untuk mengatasi plagiarism, dan kekuatiran akan penyalahgunaan dokumen dapat diatasi dengan cara me’ngunci’ dokumen elektronik dan meningkatkan pengetahuan penulis tentang cara mengutip yang benar.

Sebetulnya ada banyak keuntungan yang dapat diperoleh komunitas ilmiah melalui publikasi elektronik:

  1. publikasi karya ilmiah secara elektronik di Internet meningkatkan percepatan akses, perekaman, dan penyebaran pengetahuan yang terkandung di dalamnya
  2. kecepatan perkembangan pengetahuan pun akan semakin cepat, karena pengetahuan berkembang waktu disebarluaskan (bukan waktu dijaga di lemari atau ruang terkunci)
  3. karena setiap orang di muka bumi ini yang mempunyai akses ke Internet dapat menemukan karya tersebut, maka berarti juga akan ada banyak ’polisi’ yang dengan cepat dapat mendeteksi plagiarism. Hal ini sulit terjadi kalau, misalnya, skripsi hanya bisa dibaca di ruang skripsi. Ini bisa dibuktikan melalui pengalaman universitas yang sudah mempublikasikan karya ilmiah civitas akademikanya di Internet.

Dengan demikian, tidak perlu lagi mempertahankan kekuatiran terhadap plagiarism dengan cara menolak melakukan publikasi elektronik.

Iklan