Selingan, tetapi Tak Sampai Selingkuh

Bagi sebagian orang yang kehidupannya relatif mapan, terkadang muncul saat-saat membosankan, monoton, terlalu rutin dalam hidup mereka. Maka, saat mereka bertemu bekas pacar lama, misalnya, hidup terasa mendapatkan gairah baru. Pada saat demikian, mereka perlu waspada.

Sensasi yang dirasakan seseorang ketika berjumpa dengan orang yang cocok dengannya, atau mempunyai tempat khusus di hati, tak ubahnya seperti remaja yang tengah jatuh cinta. Orang itu bisa tak lagi merasakan indahnya kehidupan berkeluarga yang telah sekian tahun dijalani bersama istri atau suami.

Augustine Sukarlan Basri, psikolog dan pengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mengibaratkannya sebagai “rumput tetangga terasa lebih hijau dari rumput di halaman sendiri”. Suasana dan hal baru yang muncul begitu menarik perhatian seseorang hingga dia seakan tak bisa merasakan nikmatnya kehidupan berkeluarga yang dijalaninya selama ini.

“Kalau itu berlangsung sesaat saja, masih wajar. Setiap individu kan punya kehidupan masa lalu, kini, dan masa depan. Kehidupan yang tak seluruhnya bisa dia bagi dengan pasangannya. Meski wajar, tetapi sebaiknya seseorang harus tetap hati-hati dan punya pengendalian diri yang kuat. Ini agar dia tidak sampai keterusan atau tergelincir,” ujarnya.

Rudi (45, bukan nama sebenarnya) yang tinggal di Bekasi bercerita, dia mendapatkan nomor telepon genggam mantan pacarnya kala masih duduk di bangku SMA lewat mailing list terbatas alumni sekolah. Namun, saat itu pun dia tak punya niat untuk menghubungi mantan pacarnya itu. Sampai suatu hari si pacar lama yang menghubunginya lewat telepon genggam.

“Saya benar-benar tidak mengira dia akan menghubungi saya, setelah puluhan tahun tak pernah bertemu,” kata Rudi, ayah dari tiga anak, menceritakan kejadian tahun 2000.

Hubungan lewat telepon tak berlanjut, mereka sekadar bercerita tentang kehidupan masing-masing seperti soal anak, siapa pasangannya, dan pekerjaan. Mereka juga tak bertemu langsung karena pacar lama Rudi bekerja di kota Malang, Jawa Timur, sebagai pengajar.

Namun, tanpa diduga, setahun kemudian mereka bertemu ketika sama-sama pulang kampung pada hari Lebaran. Sejak itu, setiap kali pergi ke Jakarta, pacar lama Rudi selalu menghubungi. Mereka biasanya bertemu satu-dua jam sambil makan siang atau minum kopi pada sore hari.

“Pembicaraannya umum-umum saja, soal keluarga atau cerita nostalgia zaman muda dulu. Tetapi anehnya, kami malah enggak pernah ngomongin soal pacaran atau gimana dan kenapa sampai putus,” ujar Rudi, yang merasa tak perlu menceritakan hal ini kepada istrinya.

Sampai sekitar dua tahun lalu, si pacar lama menghubunginya dan bercerita bahwa suaminya meninggal dunia. Peristiwa ini menimbulkan rasa empati Rudi. Tanpa disadari, dia jadi lebih memerhatikan dan kerap menghubungi pacar lamanya itu.

Rajin ke kantor

Kalau Rudi beralasan rasa ibalah yang membuat dia belakangan ini kerap menghubungi pacar SMA-nya itu, maka Mira (30-an, bukan nama sebenarnya) yang tinggal di Jakarta Timur memang berusaha mencari tahu berita tentang mantan kekasihnya kala masih mahasiswa.

Lewat beberapa teman lama yang berhasil dihubungi, dia akhirnya mendapatkan nomor telepon genggam mantan kekasihnya yang kini menjadi aktivis salah satu partai politik. Mira, ibu dua anak, tak berani menelepon. Dia memilih mengirim SMS, alasannya sekadar menjaga tali silaturahmi. Hanya dalam hitungan menit, SMS itu langsung berbalas.

“Enggak tahu kenapa, tetapi membaca SMS-nya kok saya jadi deg-degan. Padahal isinya biasa saja, dia tanya saya kerja di mana, anak sudah berapa dan hal-hal umum seperti bagaimana bapak-ibu,” ujarnya.

Diawali dengan SMS, hubungan Mira dengan kekasih lamanya berlanjut lewat e-mail. Mira mengakui, salah satu sisi dari hal ini adalah jadi rajin ke kantor. Sebelum mulai bekerja, Mira menyempatkan diri membuka e-mail, antara lain untuk mengirim atau membaca e-mail dari mantan kekasihnya itu.

“Tetapi, jangan dikira kami bicara yang mesra-mesra ya. Kami lebih banyak diskusi mengenai hal-hal yang religius. Terkadang kami juga membahas soal puisi, film, atau drama, bidang yang sama-sama kami minati sejak mahasiswa dulu,” kata Mira.

Dia tak merasa perlu menceritakan hubungannya dengan mantan kekasihnya itu kepada sang suami. Alasannya, dia menganggap kekasih lamanya itu tak berbeda dengan teman-teman sekerja lain. Oleh karena itulah, hubungan yang awalnya disertai deg-degan itu pun kini terasa biasa-biasa saja.

Tetap menjadi idaman

Mira mengakui, meski hanya berhubungan lewat e-mail, tetapi dia sempat khawatir hubungan asmara mereka akan muncul kembali. Namun, ternyata rasa itu tak lagi muncul. Selain dia amat membatasi arah pembicaraan, si mantan kekasih pun rupanya melakukan hal sama.

“Saya enggak kepingin ketemu dia. Biar saja begini, biar dia di mata saya tetap bagusnya saja yang kelihatan, he-he-he,” ucap Mira.

Sementara Heru (46, bukan nama sebenarnya), pengusaha, bercerita, dia bertemu dengan pacar semasa SMA saat reuni. Sebelum datang pada acara reuni dia waswas karena badannya kini tak sekurus saat SMA. Menurutnya, saat itu yang dirasakannya sekadar keingintahuan tentang orang yang sudah puluhan tahun tak pernah jumpa.

“Enggak ada perasaan cinta, cuma pengin tahu kabar dia gimana dan seperti apa tampangnya sekarang. Sebenarnya ini sama dengan keingintahuan terhadap teman-teman lama lainnya, cuma memang yang satu ini lebih pengin tahunya, ha-ha-ha,” kata ayah dua anak ini.

Ketika akhirnya Heru bertemu dengan pacar lama, dia mengaku sempat grogi. Tetapi setelah itu semua obrolan tentang masa lalu pun meluncur begitu saja. Di mata dia, pacar SMA-nya tetap cantik seperti dulu, tetapi ini tak berarti dia menyesal mereka tak berjodoh.

“Enak begini, biar dia tetap tinggal jadi perempuan idaman saja. Kalau jadi istri, mungkin dia malah enggak bisa jadi istri idaman,” ucapnya.

Setelah pertemuan pada reuni sekitar dua tahun lalu itu, dia sempat bertemu beberapa kali dengan pacar SMA-nya dalam berbagai kesempatan. Istrinya memang tak pernah ikut pada berbagai pertemuan itu karena tak ingin mengganggu suaminya bernostalgia.

“Kami juga tidak pernah bertemu berduaan, pasti ramai-ramai dengan teman-teman lain. Namanya juga bernostalgia, jadi yang terlibat banyak orang, bukan cuma dua orang,” tutur Heru, yang mengaku tak ikut bila istrinya reuni dengan teman-teman lama.

Menurutnya, reuni atau bertemu teman lama umumnya diisi dengan pembicaraan tentang masa lalu. Bila pasangan diajak pun, Heru khawatir malah membuatnya bosan.

“Mana enak sih kita berada di antara orang-orang yang ngobrolin masa lalu mereka. Sesuatu yang kita enggak tahu. Daripada membiarkan istri bengong, kan mendingan dia enggak usah ikut,” katanya beralasan.

Sedangkan Rudi mengaku tak ingin mengumbar rasa ibanya. Dia khawatir cinta lama bersemi kembali karena ada peluang untuk itu. Belakangan dia mengaku berusaha menjaga jarak dengan kekasih lamanya, dengan alasan sibuk di kantor.

“Saya sadar ini hanya romantisme sesaat. Makanya, saya enggak mau keterusan,” kata Rudi, yang mulai menceritakan sosok pacar lamanya kepada sang istri sebagai teman lama. Ini, tuturnya, untuk menghindari kemungkinan munculnya perasaan cemburu.

Selingan memang membawa sensasi menyenangkan. Akan tetapi, jika berkepanjangan, mungkin mengundang masalah yang bisa-bisa tidak menyenangkan.

Ingat pesan Dara Puspita dalam lagu Mari Mari yang ditulis Titiek Puspa, “Tapi awas jangan pergi berduaan… Nenek bilang itu berbahaya oohh….”

Pengendalian Diri dan Toleransi

Orang mengenal istilah puber kedua. Ketika kehidupan keluarga dan finansial relatif sudah mapan, maka sebagian orang menginginkan sesuatu yang berbeda dalam hidupnya. Sebuah hubungan yang sering kali malah tidak mapan meski bukan selingkuh secara fisik.

Augustine Sukarlan Basri, psikolog dan pengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mengatakan, sebagian orang sering kali menyebutnya sekadar “selingan”. Meski hanya berupa selingan, sebuah hubungan yang tak sekadar teman biasa tetap punya kemungkinan untuk melibatkan emosi dan fisik keduanya secara lebih intens.

“Orang sering kali menganggap selingan itu bukan selingkuh karena sekadar berbagi. Tetapi, kalau pertemuan dengan teman itu sudah menumbuhkan perasaan lain di hati, maka ini patut diwaspadai. Misalnya, orang merasa pertemuannya dengan teman itu bisa meningkatkan semangat hidupnya, membuatnya jadi pengin tampil keren,” kata Titien, panggilan akrab Augustine.

Seharusnya, keinginan orang untuk bersemangat atau tampil sebaik mungkin tak perlu dikarenakan adanya sosok khusus itu. Titien mencontohkan, seorang guru tentu akan berusaha keras tampil menarik dan berwibawa di depan muridnya. Begitu juga seorang manajer akan berlaku di depan anak buahnya.

Kehidupan mapan memang sering kali diiringi dengan rutinitas. Hal ini pada suatu titik tertentu bisa membuat orang merasa jenuh, lelah. Di sini diperlukan penyegaran, atau kesempatan keluar dari rutinitas sehari-hari. Pada saat ini, kalau kebetulan orang itu bertemu dengan seseorang yang cocok—enak diajak curhat, punya kesamaan minat, bisa bernostalgia—dia bisa merasakannya sebagai sesuatu yang “menyegarkan”.

“Kalau sekadar untuk keluar dari rutinitas, tak masalah. Tetapi, kalau keterusan, ini bisa jadi masalah. Di sini diperlukan pengendalian diri yang kuat. Banyak contoh orang tergelincir, yang tadinya cuma asyik saling SMS-SMS-an, berlanjut bertemu dan merasa cocok. Ini tak aman untuk orang yang sudah menikah,” tuturnya.

Ibarat barang baru

Titien mengibaratkan hubungan intens sesaat atau selingan itu seperti barang baru yang menyita perhatian orang. Situasi baru yang dihadapi, apalagi kalau dibarengi dengan sensasi yang menyenangkan, akan membuat orang tertarik menikmatinya.

“Seperti kalau kita beli tas atau sepatu baru. Kan, pengin terus-menerus memakainya, sementara tas yang lama rasanya kok usang dan enggak menarik lagi. Ini karena orang sudah melihat kekurangan pada pasangannya, hal yang tak muncul pada hubungan dengan orang baru atau saat bertemu lagi dengan pacar lama,” ujarnya.

Menurutnya, bila memang Anda menganggap hubungan dengan seseorang itu sekadar selingan, tak ada salahnya bila bercerita kepada pasangan. Dengan demikian, pasangan pun tahu dan tak merasa Anda mengabaikannya.

“Misalnya, kalau suami senang sepak bola, sementara istrinya tidak. Lalu, suami punya teman perempuan yang juga gila bola dan mereka nonton bareng. Ini kalau dibicarakan secara terbuka tak menimbulkan masalah. Ini juga membuat Anda tak melihat pasangan hanya dari sisi negatifnya saja. Bagaimanapun, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan kan,” ucap Titien mengingatkan.***

Penulis: CHRIS PUDJIASTUTI & FRANS SARTONO

http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0607/30/084253.htm

Iklan