Planet dan Peradaban Manusia (Refleksi ‘Pemecatan’ Pluto)

Moh Ali Fauzi
Dosen STAI Al-Falah As-Sunniyah, Jember

Jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Maka tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak akan ada ilmu pengetahuan.

Tetapi kita hidup di alam semesta yang berada di antara kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam. Seluruh peristiwa dan hukum-hukum alam itu memungkinkan kita bisa menggambarkan segala sesuatu. Akhirnya, kita bisa bekerja dengan ilmu, dan dengannya bisa memperbaiki hidup kita.

Pemecatan Pluto
Beberapa pekan lalu, 2.500 astronom dari 75 negara telah membuat pergeseran dramatis dalam dunia astronomi. Untuk pertama kalinya sejak Copernicus menyatakan bumi berevolusi mengitari matahari, abad ke-16, para astronom menciptakan definisi yang universal tentang planet. Pluto pun tereliminasi dari jajaran Planet.

Sebuah objek langit yang mengitari matahari akan pantas disebut planet apabila, pertama, memiliki bidang orbitnya yang ekslusif, bersih dari tetangga-tetangganya. Kedua, objek itu harus memiliki massa yang cukup untuk gaya gravitasinya sehingga mampu mempertahankan kebulatan bentuknya. Pluto secara otomatis didiskualifikasi karena orbitnya overlap dengan Neptunus. Status Pluto diturunkan menjadi planet mini.

Clyde Tombaugh, seorang ahli astronomi amatir Amerika di Lowell Observatory, adalah orang yang menemukan Pluto pada 18 Februari 1930. Tombaugh meninggal pada 1997. Sedangkan Venetia Burney, murid sekolah Inggris, saat dia berusia 11 tahun telah mengusulkan nama Pluto. Kini masih hidup dan tinggal di Inggris. Nama Pluto pun resmi diterima pada 1 Mei 1930. Kedua orang inilah yang barangkali secara emosional harus diingat dalam hubungannya dengan keberadaan Pluto sebagai planet.

Pluto secara resmi diakui sebagai planet kesembilan oleh Persatuan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) pada tahun 1930. Oleh perkumpulan yang sama pula, dalam pertemuan di Praha, Ceko, Kamis 24 Agustus 2006, Pluto dicoret dari jajaran nama planet dalam tata surya kita. Keputusan sudah diambil, dan itu adalah pilihan yang paling rasional yang harus diputuskan secara ilmiah.

Lebih dari setengah abad, kita telah hidup dalam tata surya dengan sembilan planet. Kini, para astronom mengubah rumah tangga kosmos kita dengan hanya menjadi delapan planet. “Keputusannya sudah final, resmi, hanya ada delapan planet dalam sistem tata surya kita,” kata Mike Brown, astronom dari Caltech University, AS. Namun karena menyadari begitu lekatnya dalam ingatan antargenerasi, Brown akhirnya berujar, “barangkali saya akan tercatat dalam sejarah sebagai lelaki pembunuh Pluto”.

Kalau saja Pluto masih dianggap sebagai planet, akan ada puluhan planet dalam tata surya kita. Ada objek-objek lain yang bentuk dan ukurannya mirip Pluto, seperti Xena, Verona, Terran, Ceres, dan masih banyak lagi. Sekali lagi, persoalan planet Pluto adalah persoalan ilmu pengetahuan. Persoalan data dan fakta yang harus diterima. Pencoretan Pluto sebagai planet tidak hanya harus mengubah buku-buku pelajaran sekolah dan sejarah astronomi, melainkan yang lebih penting adalah meluruskan ingatan yang telah tertanam begitu kuat selama lebih dari setengah abad. Mengapa persoalan astronomi dan planet begitu penting?

Posisi astronomi
Mempelajari astronomi merupakan upaya memahami tatanan kosmos dalam kehidupan. Pada mulanya, dan hingga kini, kita selalu belajar dari alam untuk bertahan hidup. Kemampuan untuk membaca kalender di langit bisa dikatakan sebagai persoalan hidup dan mati. Kita memetik dan memanen hasil pertanian pada musim tertentu, tetapi tidak pada musim-musim yang lain. Saat kita menemukan pertanian, kita harus hati-hati menanam dan memanen tanaman kita pada musim yang tepat.

Pernah berlangsung suatu masa di mana belum ada televisi, bioskop, radio, atau buku dan sebagian besar kehidupan manusia dihabiskan dalam masa-masa seperti itu. Di sekitar bara api kemah yang hampir mati pada malam yang tak berbulan, manusia mengamati bintang-bintang. Sebagai contoh, di langit utara ada pola atau konstalasi yang mirip beruang kecil. Beberapa kebudayaan memanggilnya beruang besar. Kebudayaan lain bisa melihat gambar atau bayangan yang sangat berbeda. Gambaran ini tentu saja tidak ada di langit, manusia sendirilah yang meletakkannya di sana.

Planet disebut juga sebagai bintang-bintang pengelana. Nenek moyang kita yang pengembara pasti merasakan ikatan dengan planet-planet ini. Dalam masyarakat modern, membeli majalah astrologi akan sangat mudah. Tetapi jauh lebih sulit mencari majalah tentang astronomi. Hampir semua surat kabar memiliki kolom astrologi. Artinya, astrologi hingga kini masih begitu dekat dalam kehidupan kita.

Astrologi berpendapat bahwa tempat kedudukan planet-planet pada konstelasi saat seseorang lahir akan mempengaruhi masa depannya. Para astrolog mempelajari pergerakan planet dan bertanya pada diri mereka sendiri, apa yang terakhir terjadi saat katakanlah, Venus terbit di rasi Taurus. Mungkin hal yang sama juga akan terjadi sekarang ini.

Johannes Kepler pernah berkata, “Tuhan selalu memberi kepada makhluknya segala cara untuk hidup. Untuk para astronom, ia memberikan astrologi.” Peran astronomi dan planet dalam kehidupan tidak saja di bidang ilmu pengetahuan, namun juga mempengaruhi cara hidup manusia dalam memahami tempat hidupnya, rumah tangga kosmos alam semesta.

Penjelajahan kosmos adalah perjalanan menapak tilas untuk menemui diri sendiri. Perjalanan itu kita lakukan dengan alat yang bernama ilmu pengetahuan. Memang, alatnya belum sempurna dan sering disalahgunakan. Ada pembuat perangkat destruktif produk sains dan mengatasnamakan pertahanan dan perdamaian. Tetapi masih banyak kegiatan konstruktif lainnya yang bisa diciptakan oleh sains. Perubahan ilmu pengetahuan adalah bagian dari upaya memperbaiki kehidupan manusia itu sendiri.

Sumber: Republika On Line, Rabu, 06 September 2006

Iklan