Layanan Informasi Dambaan: Kepuasan versus Kecanggihan

“Mudah-mudahan kita tidak hanya melakukan dengan benar saja, namun yang penting bahwa kita memang mengerjakan yang benar.”
(Blasius Sudarsono)

Perpustakaan, pusat dokumentasi, pusat informasi atau apapun istilahnya merupakan sebuah institusi yang dibangun untuk kepentingan masyarakat. Pengorganisasian informasi ini dilakukan karena adanya kebutuhan akan informasi yang mudah bagi pihak yang membutuhkan baik perorangan maupun kelompok. Oleh karena itu, layanan yang dilakukan selalu berorientasi pada masyarakat, sebagai pengguna informasi. Kepuasan pengguna merupakan petunjuk utama bagi pelaksana pengorganisasian informasi.

Dalam perkembangannya, kebutuhan pengguna informasi juga berubah-ubah baik dari segi keragaman isi maupun aksesnya. Mobilisasi manusia yang makin cepat menimbulkan tuntutan hidup yang kian besar dan beragam. Perubahan pola hidup masyarakat ini mengubah pula karakter kebutuhan informasi mereka. Pengguna cenderung membutuhkan semakin banyak informasi untuk mengimbangi aktivitasnya, namun waktu dan energi mereka terbatas untuk menelusuri informasi tersebut. Efisiensi dan efektifitas menjadi pertimbangan utama pengguna dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini, konsep layanan informasi yang bersifat konvensional, yang hanya menunggu pengguna dating harus dikembangkan ke arah yang lebih aktif atau menjemput bola istilahnya. Perpustakaan harus bertransformasi atau menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada.

Dalam transformasinya di tengah kemajuan ilmu pengetahuan termasuk teknologi informasi dan komunikasi, perpustakaan harus mampu memberikan nilai tambah pada informasi melalui streamlining, ekspansi dan inovasi. Selain mempermudah dan memperluas akses, perpustakaan hendaknya mampu melakukan manajemen pengetahuan secara maksimal. Selama ini, perpustakaan termasuk kajiannya lebih banyak berfokus pada organisasi dan penyebaran informasi dan memperhatikan pengetahuan yang sudah terekam di luar pikiran penciptanya. Padahal, banyak pengetahuan yang masih ada dalam kepala dan belum pernah direkam dalam sumber-sember informasi yang umumnya dikelola oleh perpustakaan selama ini.

Untuk meningkatkan nilainya, perpustakaan harus memfasilitasi dan berpartisipasi pasif maupun aktif dalam manajemen pengetahuan penggunanya. Kemas ulang informasi menjadi sebuah alternatif yang makin diminati pengguna. Tentu saja sebuah perpustakaan harus mengenali terlebih dulu karakter penggunanya sebelum menentukan format layanan kemas ulang yang akan diberikan.
Ke depan, perpustakaan harus lebih memfokuskan diri sebagai community information intermediary, yaitu institusi yang dapat memahami dan berempati terhadap komunitas pengguna, memiliki pemahaman yang mendalam terhadap dunia informasi dan organisasinya serta dengan aktif selalu mengembangkan dan meningkatkan mekanisme yang menghubungkan keduanya. Kompetensi yang harus dimiliki dalam paradigma baru harus disesuaikan dan ditingkatkan seiring dengan perubahan tuntutan pengguna, yaitu akses informasi secara lebih luas, cepat dan tepat.

Penegasan makna kelompok pengguna yang akan dilayani adalah faktor penting dalam menentukan layanan yang akan diberikan. Layanan yang tepat dan tingkat kepuasan harus dilihat dari kacamata pengguna yang akan dilayani. Sering perpustakaan menentukan sendiri jenis dan bentuk layanan yang tepat bagi penggunanya tanpa memperhatikan karakter pengguna, terlebih tingkat kepuasannya. Kenyataannya kondisi masyarakat Indonesia termasuk pemahaman dan apresiasinya terhadap perpustakaan masih sangat beragam. Di satu sisi, masyarakat yang menerima secara terbuka kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memerlukan akses yang cepat dan luas tanpa dibatasi ruang dan waktu. Karakter ini menuntut layanan perpustakaan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Di sini kecanggihan teknologi sangat dibutuhkan termasuk sumber daya manusia yang menguasai teknologi tersebut. Dalam masyarakat dengan karakter ini waktu lebih berharga daripada beaya materi yang dikeluarkan. Dalam perkembangannya, saat ini layanan perpustakaan mengarah pada komunitas pengguna.

Kondisi yang kontradiktif bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum tersentuh sama sekali oleh kemajuan teknologi informasi dan komunnikasi. Masih banyak masyarakat yang belum mampu merumuskan kebutuhan mereka akan informasi yang dapat meningkatkan taraf hidup, kalaupun tahu mereka masih belum mempunyai banyak akses menuju ke sana. Satu kebutuhan yang mereka pahami dengan pasti adalah bertahan hidup, yaitu bisa makan setiap hari. Bahkan, pendidikan dan kesehatan pun jauh dari jangkauan mereka. Seperti judul buku Insist Press Yogyakarta yaitu “Orang Miskin Dilarang Sekolah, Orang Miskin Dilarang Sakit”. Masyarakat yang belum melek huruf, bagaimana mereka akan menerima kehadiran perpustakaan dalam hidupnya, jika bukan perpustakaan itu sendiri yang aktif dan beradaptasi dengan mereka?

Idealisme perlu dimiliki untuk mentransformasi perpustakaan menjadi bagian dari hidup keseharian masyarakat. Perubahan yang dilakukan perpustakaan di Indonesia selayaknya mengacu pada perkembangan global yang didasarkan pada karakter masyarakat yang ada. Seperti proses perkembangan yang telah dilalui dari masyarakat berburu, peramu, pertanian, industri hingga kini dikenal sebagai masyarakat informasi. Masing-masing masyarakat tentu memiliki karakter sendiri yang harus dipahami secara objektif dan menyeluruh. Bagaimana proses perubahan ini dapat dipikirkan, dirancang dan dilaksanakan; rasanya menjadi hal penting dan mendesak untuk mewujudkannya.

Bila kita lihat kembali pada paragaraf 13-14 1) Deklarasi World Summit on the Information Society (WSIS) yang dilaksanakan di Genewa, 10-12 Desember 2003, ditegaskan bahwa dalam membangun masyarakat informasi harus memperhatikan kebutuhan masyarakat marginal. Karena itu, transformasi layanan perpustakaan harus berdasarkan karakter masyarakat yang beragam tersebut. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang canggih dibutuhkan untuk mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu cepat. Namun, apakah kecanggihan itu bisa dinikmati oleh komunitas pengguna kita? Pertanyaan yang harus kita kembalikan pada karakter komunitas pengguna layanan perpustakaan itu sendiri. Kembali pada prinsip perpustakaan yang beorientasi pada pengguna, maka kepuasan pengguna menjadi indikator utama. Oleh karena itu, menjadi tugas perpustakaan untuk mengidentifikasi tingkat kepuasaan penggunanya. Kepuasan tidak selalu sama dengan kecanggihan. (SN)

1)
Paragraf 13
Dalam membangun masyarakat informasi, kita harus lebih memberikan perhatian pada kebutuhan khusus kelompok terpinggirkan dan lemah dalam masyarakat, termasuk migran, orang tersisih dan pengungsi, pengangguran, orang miskin, minoritas, dan orang nomaden. Kita juga harus memahami kebutuhan khusus orang tua dan penyandang cacat.

Paragraf 14
Kami berniat teguh untuk memberdayakan orang miskin, khususnya yang hidup di tempat jauh, pedesaan dan daerah pinggiran kota, untuk mengakses informasi dan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana pendukung upaya mereka mengentaskan diri dari kemiskinan.

Sumber: http://www.kalyanamitra.or.id/kalyanamedia/1/3/pustakaria1.htm

Iklan